Rabu, 06 Juni 2012

Meluruskan Niat

TBT P3R v.1

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti team building training bagi panitia P3R Salman. Tepatnya Kamis malam (31/5/2012), saya bersama teman / satu tim panitia mendapatkan materi mengenai meluruskan niat dengan narasumber Ust. Samsyul.
Sekilas mungkin terlihat sederhana dan umum jika kita membahas niat, tapi mau bagaimana lagi, basic inilah yang kian lama kian disepelekan.


Niat merupakan langkah awal dari segala perbuatan yang akan kita lakukan. Niat menjadi amalan yang pertama kalinya. Niat sendiri berada di dalam qalbu dan digunakan sebagai penentu kualitas amalan. Utamanya niat itu harus "lillahitaala", yakni pada Allah semata.

Tauhid
                  X         syirik
Ikhlas


Niat harus ikhlas dan mengandung unsur tauhid (Allah) tanpa ada campuran niat yang lain. Kita lihat kedua aspek tersebut, ikhlas dan tauhid serta syirik yang bertolak belakang dengan keduanya. Kita amati, niat itu ikhlas berarti niat itu murni. Jelaslah jika sesuatu yang murni 'pure' tidak mungkin tercampur atau terkontaminasi oleh hal lain. Niat memiliki kadungan tauhid, tertuju pada Allah saja tidak boleh niat itu ditujukan pada yang lain. Sedangkan syirik juga mengandung arti campuran. Dengan kata lain, niat tidak boleh mengandung syirik. Nah, terkadang dalam keseharian kita secara tidak sengaja terdapat unsur syirik yang kecil. Misalkan, ketika kita sudah berniat melakukan kebajikan terkadang ingin mendapat bonus pujian dari orang lain. Bisa juga ketika kita hanya melakukan  sesuatu bagi orang lain dengan maksud mengambil hatinya. Tanpa sepengetahuan kita, niat tersebut akan menghasilkan riya. Siasat jitu setan itu umumnya muncul di detik-detik akhir suatu amalan. Karena meskipun memiliki niat yang luar biasa baik bisa saja berubah / tergoyahkan di akhir.

Salah satu hal yang perlu diingat yaitu ikhlas dalam niat perlu dilatih selama kita hidup. Menurut ulama, ikhlas itu bertempat di hati. Nah, salah satu yang salah dari serapan Indonesia adalah arti dari hati itu sendiri, padahal dalam Bahasa Inggris sendiri sudah dibedakan antara heart (jantung) dan liver (hati). Dalam bahasa arab sendiri, niat berada di dalam qalbu (jantung) bukan kabidun (hati).

Niat sendiri sebenarnya tidak perlu dijaharkan karena niat sudah terpatri dalam qalbu kita. Misal dalam solat, kita pun tidak akan disalahkan jika tidak melafalkan niat solat, karena hati kita sendiri sudah berniat. Nah, kenapa kita waktu kecil itu sering melafalkan karena itu merupakan proses pembelajaran dan pembiasaan diri. Kalau sudah dewasa ya beda, boleh dilafalkan seperti biasa atau dilafalkan dalam qalbu. Tidak masalah mau dalam bentuk bahasa arab, indonesia, atau bahasa lainnya, yang penting niat dan hati kita tertuju kepada Allah. Kalau haji dan umroh beda lagi ya, karena memang dicontohkan untuk dijaharkan.

Nah sebenarnya beberapa organ tubuh juga turut mempengaruhi niat kita loh. Ada 4 yaitu:
1. Qalbu
2. Otak
3. K. Hipofisis
4. tulang belakang
Kita amati, qalbu sudah jelas karena merupakan letak niat berada. Otak ini memengaruhi kerja organ lain dan pola pikir tentang niat. Hipofisis ini memengaruhi stabilitas emosi dalam diri seseorang hingga membentuk suatu mood yang mempengaruhi niat. Kalau yang keempat saya lupa, mungkin hubungannya karena di tulang belakang terdiri dari saraf-saraf penggerak dari niat itu sendiri.

Mindset dalam otak kita perlu dilatih supaya niat yang kita miliki selalu bersifat positif. Analogikan hal positif ini dengan niat sebuah kejujuran. Menurut beliau, seharusnya manusia lebih sulit berdusta dibandingkan dengan kejujuran. Mengapa? Karena di dalam otak 'lobus frontalis' memerlukan afford berlebih untuk melakukan suatu kedustaan. Dengan kata lain, sebenarnya akan lebih mudah membuat niat yang positif dibandingkan yang negatif, realisasinya adalah kehidupan kita. Coba kita ingat-ingat, selama ini pasti  kita merasa sudah memiliki banyak niat dan amalan positif. Bahkan yang notabenenya adalah kriminal yang memiliki niat positif ingin menafkahi keluarganya namun amlannya dengan jalan negatif. Kebanyakan manusia memiliki niat yang positif.



Nah, sekarang kita pelajari proses-proses niat secara neurologi.
Tokoh utamanya sekarang Lobus frontalis dan sistem limbik. Keduanya berada di otak hanya berbeda daerah saja, lobus frontalis berada di agak depan sedangkan sistem limbik di tengah. Keduanya terhubung pada suatu jalur. Jalur ini ada yang disebut Hipokampus dan ada jalur Amigdala. Hipokampus merupakan jalur yang baik, positif, dan disebut jalan ke surga karena menghasilkan niat dan amalan kebajikan. Sebaliknya Amigdala merupakan jalur yang salah, negatif, dan menuju jalur neraka. Hasilnya bisa kita bayangkan seperti apa.
Di sinilah mindset akan niat positif perlu dilatih. Kita biasakan agar niat yang kita miliki selalu bernilai positif karena kita tahu bahwa tujuan akhir kita adalah surga bukan neraka. Ya gak?


Manusia diciptakan dalam keadaan penuh kesulitan. Sudah fitrahnya stress akan selalu dimiliki manusia. Untuk itu kita perlu menghadapinya dengan senyuman, riang, enjoy, kenyamanan, dan hal positif lainnya. Jika kita tidak sanggup menghadapinya, maka stress tersebut akan membuat kita deperesi. Tentunya ini dibentuk dari niat kita, bagaimana kita menghadapinya dengan niat positif atau melarikan diri dengan niat negatif.


Mari kita benerin lagi niat-niat yang kita miliki, dan waspada riya. Mungkin niat itu sederhana tapi ,sekali lagi, jangan pernah disepelekan. Jangan sampai kita melakukan amalan baik sebagai suatu rutinitas tanpa landasan niat untuk Allah.




itu sih... materi yang saya dapatkan, memang jadi jauh ke otak, saraf, dll. tapi saya pribadi menikmati ilmu-ilmu yang diberikan oleh beliau... sesi selanjutnya => insya Allah. Salah satu referensi yang beliau berikan yaitu buku "Inner Beauty" karangan Dr. Tauhid Al Azhar, jika ingin mengenal lebih jauh lagi tentang Hipokampus dan Amigdala (kata-kata yang saya juga baru denger kemaren)





sumber gambar
http://www.voa-islam.com/photos2/Azka/anatomi-otak.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar